MAKALAH PEMANASAN GLOBAL
Latar
Belakang
Setiap tanggal 22 April, masyarakat dunia khususnya masyarakat
peduli lingkungan memperingatinya sebagai Hari Bumi. Peringatan yang pertama
kali dilakukan pada 22 April 1970 di Amerika Serikat atas prakarsa seorang
senator yang bernama Geylord Nelson itu, bagi pejuang lingkungan hidup
merupakan momen untuk mendesak masuknya isu lingkungan hidup dalam agenda tetap
nasional dan mengingatkan manusia akan pentingnya kelestarian lingkungan hidup.
Isu dunia tentang lingkungan yang terhangat saat ini adalah masalah pemanasan
global (global warming) dan akibat-akibatnya bagi kehidupan manusia
Apa itu Pemanasan Global
?
Pemanasan global adalah
kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi.
Pada saat ini, Bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang oleh para ilmuan
dianggap disebabkan aktifitas manusia. Penyebab utama pemanasan ini adalah
pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam,
yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah
kaca ke atmosfer.
Diperkirakan, setiap
tahun dilepaskan *18,35 miliar* ton karbon dioksida (18,35 milliar ton karbon
dioksida ini sama dengan 18,35 X 1012 atau 18.350.000.000.000/kg karbon
dioksida).Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin
menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari Matahari yang
dipancarkan ke Bumi. Inilah yang disebut dengan Efek Rumah Kaca.
Rata-rata temperatur
permukaan Bumi sekitar 15°C (59°F). Selama seratus tahun terakhir, rata-rata
temperatur ini telah meningkat sebesar 0,6 derajat Celsius (1 derajat
Fahrenheit). Para ilmuan memperkirakan pemanasan lebih jauh hingga 1,4 – 5,8
derajat Celsius (2,5 – 10,4 derajat Fahrenheit) pada tahun 2100.
MASALAH
Karerna
alasan tersebut kami mencoba untuk menuliskan makalah tentang pemansasan global
yang sedang terjadi pada saat ini, yang ditinjau dari segi umum/ilmiah dan
berdasarkan agama khususnya pandangan umat islam tentang pemanasan global
(ditinjau dari akibat pemanasan global, mengapa terjadi pemanasan global dan
cara pencegahan pemanasan global) Apa bila ada kekurangan atau kesalahan dalam
penulisan, penulis mohon maaf dan tolong dibenarkan terima kasih.
TUJUAN
- Agar
kita bisa memperehatikan keadaan lingkungan kita
- Menambah
pengetahuan tentang pemanasan global
-
Mengetahui cara pencegahan pemanasan global
- dan
bagaimana pandangan IPTEK dan agama tentang pemanasan global
KAJIAN
PUSTAKA
Bahan-bahan
makalah kami ambil dari situs-situs internet yang berbeda-beda agar supaya data
yang kami kumpulkan tentang materi pemanasan global bisa mendekati kejadian
yang sebenarnya telah terjadi dan bisa menyampaikan materi dengan baik. Untuk
lebih jelasnya nanti kami lampirkan pada daftar pustaka sumber-sumber yang kami
ambil.
PEMBAHASAN
Menurut
iptek tentang pemanasan global
Sebagian
besar para ilmuawan telah mencapai suatu kesepakatan mengenai fenomena yang
terkenal dengan nama pemanasan global dan telah menjadi sorotan utama
masyarakat dunia sekarang. Selama setengah abad sekarang ini, gas rumah kaca
CO2, methan, nitrat oksida dan CFC dilepaskan ke atmosfir bumi dalam jumlah
yang sangat besar dan dengan konsekuensi yang sangat besar.
Menurut laporan panel antara pemerintahan antar perserikatan bangsa-bangsa/IPCC, telah terjadi kenaikan suhu minimum dan maksimum bumi antara 0,5-1,5 derajat. Kenaikan itu terjadi pada suhu minimum dan maksimum disiang hari maupun malam hari antara 0,5 sampai 2,0 derajat celcius atau temperature rata-rata global telah meningkat sekitar 0,6 derajat celcius (33 derajat F) diabandingkan dengan masa sebelum industri.
Menurut laporan panel antara pemerintahan antar perserikatan bangsa-bangsa/IPCC, telah terjadi kenaikan suhu minimum dan maksimum bumi antara 0,5-1,5 derajat. Kenaikan itu terjadi pada suhu minimum dan maksimum disiang hari maupun malam hari antara 0,5 sampai 2,0 derajat celcius atau temperature rata-rata global telah meningkat sekitar 0,6 derajat celcius (33 derajat F) diabandingkan dengan masa sebelum industri.
Jika
emisi gas-gas berbahaya ini terus meningkat sesuai dengan kecenderungan yang
terjadi, konsentrasi gas rumah kaca akan lebih tinggi dan mencapai dua kali
lipat dari sebelum era industri pada tahun 2100. jika ini terjadi, maka
konsentrasi gas rumah kaca akan lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi
selama jutaan tahun terakhir ini. Hal ini akan mengakibatkan meningkatnya
temperature rata-rata global sebesar 2,5 derajat celcius, dengan peningkatan 4
derajat celcius di daratan. Angka tersebut sepertinya kecil dan tidak berarti,
tetapi ketika temperature permukaan bumi meningkat 4 derajat C, peningkatan ini
sebenarnya cukup untuk mengakhiri zaman Es. Saat ini, ketinggian lautan sudah
meningkat karena blok-blok es di lautan mulai mencair. Para ilmuawan mengatakan
bahwa abad paling dalam millennium terakhir adalah abad ke-20. tidak
mengehrankan jika tinggi lautan selama abad ke-20 adalah sekitar 10 cm, dan
sebagian besar diantaranya terjadi pada abad ke-20.
Kenaikan
suhu secara execeptional sangat mencemaskan dibandingkan dengan bencana seperti
banjir dan kekeringan karena kenaikan suhu tidak tergantung dari musim dan bersifat lintas batas sehingga efek distruksinya besar.
Selain dari itu, kenaikan suhu durasinya lama dan polanya kontinu sehingga
menguras totalitas energi. Berbeda dengan banjir dan kekeringan, sekalipun
polanya saat itu acak tetapi magnitude banjir besar terjadi pada musim hujan
dan magnitude kekeringan ekstrem terjadi pada puncak musim kemarau.
Perubahan iklim sudah tidak lagi nmenyangkut kepentingan lingkungan hidup. Namun, sudah meluas pada aspek keamanan pangan, ketersediaan air bersih, kesehatan masyarakat, gangguan cuaca berupa badai yang kian meningkat intensitasnya serta ancamannya. Intinya, resiko resiko yang dihadapi manusia naik tajam. Tidak hanya mengarah pada kerusakan harta benda atau lingkungan, tetapi juga mengancam jiwa manusia. Pemanasan global telah memicu peningkatan suhu bumi yang mengakibatkan melelehnya es di gunung dan kutub, berkurangnya ketersediaan air, naiknya permukaan air laut dan dampak buruk lainnya.
Perubahan iklim sudah tidak lagi nmenyangkut kepentingan lingkungan hidup. Namun, sudah meluas pada aspek keamanan pangan, ketersediaan air bersih, kesehatan masyarakat, gangguan cuaca berupa badai yang kian meningkat intensitasnya serta ancamannya. Intinya, resiko resiko yang dihadapi manusia naik tajam. Tidak hanya mengarah pada kerusakan harta benda atau lingkungan, tetapi juga mengancam jiwa manusia. Pemanasan global telah memicu peningkatan suhu bumi yang mengakibatkan melelehnya es di gunung dan kutub, berkurangnya ketersediaan air, naiknya permukaan air laut dan dampak buruk lainnya.
Pemanasan
global seperti dilaporkan 441 pakar Intergovernmental panel on Climate change,
10 April 2007, menyebabkan naiknya suhu permukaan bumi lima tahun mendatang
berupa kegagalan panen, kelangkaan air, dan kekeringan. Diperkirakan asia akan
mengalami dampak yang paling parah, produksi pertanian tiongkok dan banglades
akan anjlok 30 persen, India akan mengalami kelangkaan air dan 100 juta rumah
warga pesisir akan tergenang.
Laju
pemanasan global yang tidak terkendali akan makin mempercepat pencairan es
dikutub dan meningkatkan permukaan air laut secara drastic. Dampaknya, kawasan
pulau kecil dan pesisir makin tenggelam. Kemudian menimbulkan sedimentasi yang
menutup permukaan terumbu karang. Fenomena tersebut juga akan memicu tingkat
keasaman terumbu karang yang menimbulkan pemudaran (bleaching) hingga kepunahan
ekosistem tersebut akibat sedimentasi dan intensitas cahaya matahari yang
berkurang.
Sifat perubahan Iklim tentu tidak mengenal batas Negara. Begitu pula distribusi dan dampaknya, bahkan akan menimbulkan ketidakseimbangan dan ketidak adilan antar Negara. Negara-negara industri adalah penyumbang terbesar gas rumah kaca yang berdampak pada perubahan iklim, sedangkan Negara yang sedang berkembang yang sedikit konstribusinya dalam fenomena pemanasan global ini justru terkena dampak yang nyata. Oleh karena itu, semua pihak harus menyatakan perang melawan pemanasan global dengan perannya masing-masing. Industri transportasi, ahli pertanian, aktifis lingkungan, pemerintah hingga individu harus mengerem peningkatan pemanasan global.
Sifat perubahan Iklim tentu tidak mengenal batas Negara. Begitu pula distribusi dan dampaknya, bahkan akan menimbulkan ketidakseimbangan dan ketidak adilan antar Negara. Negara-negara industri adalah penyumbang terbesar gas rumah kaca yang berdampak pada perubahan iklim, sedangkan Negara yang sedang berkembang yang sedikit konstribusinya dalam fenomena pemanasan global ini justru terkena dampak yang nyata. Oleh karena itu, semua pihak harus menyatakan perang melawan pemanasan global dengan perannya masing-masing. Industri transportasi, ahli pertanian, aktifis lingkungan, pemerintah hingga individu harus mengerem peningkatan pemanasan global.
Pemanasan global menjadi salah satu isu panas yang diangkat
di pertemuan ilmiah tahunan European Society Cardiology di Wina akhir September
2007, yang menyatakan bahwa apabila pemanasan global tidak dapat dikontrol,
akan menimbulkan masalah kardiovaskular di tahun-tahun mendatang.
Dr Karin Schenk-Gustafsson dari Departemen Kardiologi, Institut Karolinska di Swedia, bahkan dengan yakin menyatakan bahwa bila mana terjadi peningkatan suhu beberapa derajat celcius dalam tempo 50 tahun kedepan, akan terjadi peningkatan insiden penyakit kardiovaskular. Ia merujuk pada gelombang panas yang menyerang di kawasan eropa pada tahun 2003, berdasarkan data rekam medik dari beberapa rumah sakit dilaporkan terjadi kematian sebanyak 35.000 orang pada dua minggu pertama bulan Agustus. Di Prancis saja terjadi hamper 15.000 kematian pada saat itu. Sebagian besar kematian terjadi pada usia lanjut dan menderita penyakit jantung.
Dr Karin Schenk-Gustafsson dari Departemen Kardiologi, Institut Karolinska di Swedia, bahkan dengan yakin menyatakan bahwa bila mana terjadi peningkatan suhu beberapa derajat celcius dalam tempo 50 tahun kedepan, akan terjadi peningkatan insiden penyakit kardiovaskular. Ia merujuk pada gelombang panas yang menyerang di kawasan eropa pada tahun 2003, berdasarkan data rekam medik dari beberapa rumah sakit dilaporkan terjadi kematian sebanyak 35.000 orang pada dua minggu pertama bulan Agustus. Di Prancis saja terjadi hamper 15.000 kematian pada saat itu. Sebagian besar kematian terjadi pada usia lanjut dan menderita penyakit jantung.
Sependapat
dengan pemikiran tersebut, DR. Gordon Tomaselli, ketua Departemen kardiologi di
Universitas Johns Hopkins, menganalogikan proses aterosklerosis, penumpukan
kolesterol di dinding pembulu darah, ibarat proses akarat di mobil. Karat akan
mudah terjadi pada temperature yang lebih panas, demikian juga dengan
aterosklerosis.
Variasi musin terhadap factor resiko kardiovaskular, seperti tekanan darah, profil lipid, dan factor pembekuan darah telah banyak diketahui. Namun demikian, namun demikian manakah yang berdampak paling buruk terhadap jantung kita; temperature panas, dingin, atau lebarnya variasi harian.
Variasi musin terhadap factor resiko kardiovaskular, seperti tekanan darah, profil lipid, dan factor pembekuan darah telah banyak diketahui. Namun demikian, namun demikian manakah yang berdampak paling buruk terhadap jantung kita; temperature panas, dingin, atau lebarnya variasi harian.
Mengutip
laporan yang dipublikasikan di Environmental Health Perspectives Agustus 2003,
di Denver, Colorado pada bulan juli dan Agustus tahun 1993 sampai denggan 1997,
memperlihatkan peningkatan temperature berkaitan dengan peningkatan insidens
serangan jantung pada mereka yang berusia lebih dari 65 tahun.
Sebenarnya tubuh manusia memiliki kemampuan pengaturan agar menjaga suhu tetap stabil pada kisaran fisiologis. Apabila suhu lingkungan mengalami peningkatan, maka tubuh akan memproduksi keringat agar terjadi penguapan pada permukaan tubuh, sehingga peningkatan suhu tubuh dapat di cegah. Selama proses tersebut, pembuluh darah akan mengalami vasodilatasi (pembesaran diameter lumen) untuk mengirim darah lebih banyak ke kulit tubuh, dimana temperature lebih dingin. Sebagai akibatnya, tekanan nadi akan bertambah (takikardi) untuk mempertahankan curah jantung.
Sebenarnya tubuh manusia memiliki kemampuan pengaturan agar menjaga suhu tetap stabil pada kisaran fisiologis. Apabila suhu lingkungan mengalami peningkatan, maka tubuh akan memproduksi keringat agar terjadi penguapan pada permukaan tubuh, sehingga peningkatan suhu tubuh dapat di cegah. Selama proses tersebut, pembuluh darah akan mengalami vasodilatasi (pembesaran diameter lumen) untuk mengirim darah lebih banyak ke kulit tubuh, dimana temperature lebih dingin. Sebagai akibatnya, tekanan nadi akan bertambah (takikardi) untuk mempertahankan curah jantung.
Penurunan
tekanan darah berarti pengurangan suplai oksigen ke otot jantung, sedangkan
peningkatan denyut nadi adalah peningkatan demand. Kedua hal tersebut merupakan
kombinasi yang dapat membahayakan orang usia lanjut yang pada umumnya menderita
penyakit jantung koroner atau penderita lemah jantung. Di samping itu, keluar
keringat berlebihan akan menyebabkan terjadinya hemokonsentrasi yang pada
akhirnya mempermudah kecenderungan terjadi gumpalan darah.
Berbagai
laporan telah memperlihatkan bahwa perubahan iklim memiliki potensi besar untuk
menimbulkan masalah kardiovaskuler. Namun demikian, para pakar kesehatan
menyatakan bahwa terlalu banyak variable yang tidak diketahui yang mengaitkan
antara pemanasan global dengan penyakit jantung koroner atau aterosklerosis, sehingga
sulit untuk meramalkan dampaknya dikemudian hari. Harus diakui, bahwa hingga
saat ini belum ada satupun penelitian membuktikan bahwa cuaca yang panas secara
langsung dapat meningkatkan kecenderungan menderita aterosklerosis. Tampaknya,
factor polusi atau kualitas udara lingkungan akibat pemanasan global akan lebih
banyak memegang peran untuk terjadinya masalah kardiovaskular, dibandingkan
peningkatan temperature sendiri.
Para ahli klimatologi amerika sudah
memprediksikan bahwa penyebab dari global warming adalah karena bumi menyeraplebih banyak energi matahari dari pada yang di
pantulkan. Menurut mereka perbedaanya sangat_sangat fantastik 1 dibanding 7
Kesimpulan ini diambil dengan menggunakan stimulasi komputer mengenai data data pemanasan pada permukaan buni dan laut. Data tersebut semakin menguatkan pendapat para ahli tersebut
Para peneliti juga membandingkan energi tang masuk armosfer dengan energi yang di pantulkan ke angkasa. Ini sangat sulit di lakukan karena itu para peneliti menggunakan suhu permukaan laut
“Mengukur perubahan secara langsung sulit dilakukan, karena Anda harus mendeteksi variabel tertentu dari sekian banyak variabel,” kata Gavin Smith, salah satu anggota tim peneliti dari NASA.
“Tapi kami tahu berapa besar energi yang diserap lautan dari pengukuran selama puluhan tahun melalui satelit maupun peralatan yang ditempatkan langsung. Didukung pemahaman kami tentang atmosfer, hasil pengolahan data memperlihatkan bahwa selama ini terjadi ketidakseimbangan di atmosfer,” lanjutnya.
Caranya dengan memonitor suhu permukaan laut dari ribuan pelampung (buoys) yang tersebar di berbagai lokasi. Data-data yang diambil dari berbagai tempat dimasukkan dalam komputer dan merepresentasikan model iklim yang kompleks meliputi aktivitas atmosfer, laut, angin, arus, gas, dan zat pencemar lainnya.
Kesimpulan ini diambil dengan menggunakan stimulasi komputer mengenai data data pemanasan pada permukaan buni dan laut. Data tersebut semakin menguatkan pendapat para ahli tersebut
Para peneliti juga membandingkan energi tang masuk armosfer dengan energi yang di pantulkan ke angkasa. Ini sangat sulit di lakukan karena itu para peneliti menggunakan suhu permukaan laut
“Mengukur perubahan secara langsung sulit dilakukan, karena Anda harus mendeteksi variabel tertentu dari sekian banyak variabel,” kata Gavin Smith, salah satu anggota tim peneliti dari NASA.
“Tapi kami tahu berapa besar energi yang diserap lautan dari pengukuran selama puluhan tahun melalui satelit maupun peralatan yang ditempatkan langsung. Didukung pemahaman kami tentang atmosfer, hasil pengolahan data memperlihatkan bahwa selama ini terjadi ketidakseimbangan di atmosfer,” lanjutnya.
Caranya dengan memonitor suhu permukaan laut dari ribuan pelampung (buoys) yang tersebar di berbagai lokasi. Data-data yang diambil dari berbagai tempat dimasukkan dalam komputer dan merepresentasikan model iklim yang kompleks meliputi aktivitas atmosfer, laut, angin, arus, gas, dan zat pencemar lainnya.
Dari
simulasi tersebut tampak bahwa atmosfer bumi menyerap energi 0,85 watt per
meter persegi (secara keseluruhan setara dengan 7 triliun bola lampu 60 watt),
lebih dari energi yang dilepaskan kembali. Penyebabnya adalah efek rumah kaca
yang terbentuk oleh lapisan gas karbon dioksida. lapisan tersebut menyerap
radiasi panas yang dipantulkan bumi yang seharusnya dilepaskan ke ruang
angkasa.
Menurut Gavin Schmidt, butuh energi yang besar untuk menghasilkan perubahan di permukaan bumi. Meskipun demikian penyerapan energi telah berjalan dalam rentang waktu yang lama.
Berdasarkan laporan Nasa, penyerapan energi sudah terlalu besar sehingga peningkatan suhu bumi sebesar setengah derajat celcius tidak dapat dicegah kecuali manusia menghentikan produksi gas rumah kaca.
Menurut Gavin Schmidt, butuh energi yang besar untuk menghasilkan perubahan di permukaan bumi. Meskipun demikian penyerapan energi telah berjalan dalam rentang waktu yang lama.
Berdasarkan laporan Nasa, penyerapan energi sudah terlalu besar sehingga peningkatan suhu bumi sebesar setengah derajat celcius tidak dapat dicegah kecuali manusia menghentikan produksi gas rumah kaca.
DAMPAK PEMANASAN GLOBAL
Jika tidak segera
diatasi, maka kenaikan temperatur karena pemanasan global hingga tahun 2100
akan mengakibatkan mencairnya es di kutub dan menghangatkan lautan, yang
mengakibatkan meningkatnya volume lautan serta menaikkan permukaannya sekitar 9
– 100 cm (4 – 40 inchi), menimbulkan banjir di daerah pantai, bahkan dapat
menenggelamkan pulau-pulau. Diantara 17.500 pulau di Indonesia, sekitar 4000
pulau akan tenggelam.
Beberapa daerah dengan
iklim yang hangat akan menerima curah hujan yang lebih tinggi, tetapi tanah
juga akan lebih cepat kering. Kekeringan tanah ini akan merusak tanaman bahkan
menghancurkan suplai makanan di beberapa tempat di dunia. Hewan dan tanaman
akan bermigrasi ke arah kutub yang lebih dingin dan spesies yang tidak mampu
berpindah akan musnah.
Di Indonesia sendiri,
tanda-tanda perubahan iklim akibat pemanasan global telah lama terlihat.
Misalnya, sudah beberapa kali ini kita mengalami musim kemarau yang panjang.
Tahun 1982-1983, 1987 dan 1991, kemarau panjang menyebabkan kebakaran hutan
yang luas. Hampir 3,6 juta hektar hutan habis di Kalimatan Timur akibat
kebakaran tahun 1983. Musim kemarau tahun 1991 juga menyebabkan 40.000 hektar
sawah dipusokan dan produksi gabah nasional menurun drastis dari 46,451 juta
ton menjadi 44,127 juta ton pada tahun 1990.
Pada tahun 2006, akibat
pemanasan global terlihat dengan terlambatnnya musim penghujan yang seharusnya
sudah turun pada Oktober 2006. Namun hingga Desember 2006 hujan belum juga
turun. Keterlambatan itu juga disertai dengan pendeknya periode hujan, namun
intensitasnya tinggi. Akibatnya banjir melanda Jakarta dan sekitarnya.
Pemanasan Global juga
mengakibatkan siklus perkawinan dan pertumbuhan nyamuk (dari telur menjadi
larva dan nyamuk dewasa) akan lebih singkat, sehingga jumlah populasi akan
cepat naik. Mengganasnya penyakit yang disebabkan oleh nyamuk kemudian seolah
menyebabkan jenis penyakit baru.
EFEK RUMAH KACA
Efek rumah kaca, pertama
kali ditemukan oleh Joseph Fourier pada 1824, merupakan sebuah proses di mana
atmosfer memanaskan sebuah planet.
Efek rumah kaca
disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2 ) dan gas-gas
lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan
pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batubara dan bahan bakar organik lainnya
yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.
Selain gas CO2 , yang
dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah sulfur dioksida (SO2 ), nitrogen
monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2 ) serta beberapa senyawa organik
seperti gas metana (CH4 ) dan khloro fluoro karbon (CFC). Gas-gas tersebut
memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.
Energi yang masuk ke
bumi mengalami : 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer 25%
diserap awan 45% diadsorpsi permukaan bumi 5% dipantulkan kembali oleh
permukaan bumi
Proses Efek Rumah Kaca
berawal dari sinar matahari yang menembus lapisan udara (atmosfer) dan memanasi
permukaan bumi. Permukaan bumi yang menjadi panas menghangatkan udara yang
tepat diatasnya. Karena menjadi ringan, udara panas tersebut naik dan posisinya
digantikan oleh udara sejuk. Tanpa Efek Rumah Kaca maka bagian bumi yang tidak
terkena sinar matahari akan menjadi sangat dingin seperti di dalam freezer
lemari es (-18°C)
Mekanisme yang
sebenarnya menguntungkan kehidupan di bumi ini berbalik menjadi sebuah ancaman
tatkala manusia memasuki era industrialisasi (abad ke-18). Untuk menunjang
proses industri, manusia mulai melakukan pembakaran batu bara, minyak dan gas
bumi untuk menghasilkan bahan baker dan listrik.
Proses pembakaran energi
dari bumi ini ternyata menghasilkan gas buangan berupa CO2. Otomatis kadar
lapisan gas rumah kaca yang menahan dan memantulkan kembali udara panas ke bumi
menjadi semakin banyak. Bumi pun semakin panas.
MENGURANGI EFEK RUMAH
KACA
Satu sisi, Efek Rumah
kaca dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan alam. Namun, Efek Rumah Kaca yang
berlebihan akibat aktifitas manusia akan berubah menjadi ancaman untuk
kehidupan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, ketika manusia menyadari bahwa
aktifitasnya telah mengakibatkan Efek Rumah Kaca yang berlebih, maka diperlukan
usaha yang sungguh-sungguh untuk menguranginya sehingga mencapai
keseimbangannya kembali.
Dunia masih mempunyai
kesempatan realistis hingga 2010 guna menghindari sebagian dari bencana meluas
akibat pemanasan global (global warming). Demikian disampaikan dua peneliti
lingkungan dari Universitas Princeton dan Universitas Brown, Michael
Oppenheimer dan Brian O’Neill, di AS dalam suatu kajian yang dimuat Journal
Science.
Sebuah laporan yang
dikeluarkan di Cina pada tahun yang sama menyatakan ramalan, suhu global Bumi
bisa meningkat sampai 5,8 derajat Celcius sedikitnya pada akhir abad ini.
Pernyataan ini diperkuat pula oleh laporan lain dari NASA Goddard Institute for
Space Studies yang mengatakan, ambang CO2 meningkat dari angka satuan 280 ppmv
(/parts per million by volume/) pada tahun 1850 menjadi 360 ppmv pada tahun
2001. Padahal, dalam kajian yang lain dikatakan, ambang CO2 di atmosfer harus
dicegah untuk tidak melebihi ambang 450 ppmv.
Para ilmuwan mempelajari
cara-cara untuk membatasi pemanasan global. Kunci utamanya adalah:
1.membatasi emisi CO2
Tehnik yang efektif
untuk membatasi emisi karbon ada dua yakni mengganti energi minyak dengan
sumber energi lainnya yang tidak mengemisikan karbon dan yang kedua penggunaan
energi minyak sehemat mungkin.
2.Menyembunyikan
karbon yang juga membantu mencegah karbon dioksida memasuki atmosfer atau
mengambil CO2 yang ada.
Menyembunyikan karbon dapt dilakukan dengan dua cara:
1. Di bawah tanah atau
penyimpanan air tanah
Bawah tanah atau air
bawah tanah bisa digunakan untuk menyuntikkan emisi CO2 ke dalam lapisan bumi
atau ke dalam lautan. Lapisan bumi yang dapat digunakan adalah penyimpanan
alami minyak dan gas bumi di tambang-tambang minyak. Dengan memompakan CO2
kedalam tempat-tempat penyimpanan minyak di perut bumi akan membantu
mempermudah pengambilan minyak atau gas yang masih tersisa. Hal ini bisa
menutupi biaya penyembunyian karbon. Lapisan garam dan batubara yang dalam juga
bias menyembunyikan karbon dioksida.
2. Penyimpanan di dalam
tumbuhan hidup.
Tumbuhan hijau menyerap
CO2 dari udara untuk tumbuh. Kombinasi karbon dari CO2 dengan hidrogen
diperlukan untuk membentuk gula sederhana yang disimpan di dalam jaringan.
Mengingat pentingnya tumbuhan dalam menyerap CO2 , maka perlunya memelihara
pepohonan dan menanam pohon baru lebih banyak lagi
PROTOKOL KYOTO
Pemanasan global sudah
menjadi isu internasional. Bahkan, keresahan dunia ini terwujud dalam
konferensi Kyoto pada Desember 1997. Persetujuan konferensi itu berlaku mulai
16 Februari 2005. Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi
Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), yakni sebuah persetujuan
internasional mengenai pemanasan global.
Negara-negara yang
meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbon
dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya. Jika sukses diberlakukan, Protokol
Kyoto diprediksi akan mengurangi rata-rata pemanasan global antara 0,02°C dan
0,28°C pada tahun 2050.
Hingga Februari 2005,
141 negara telah meratifikasi protokol tersebut, termasuk Kanada, Tiongkok,
India, Jepang, Selandia Baru, Rusia, 25 negara anggota Uni Eropa, serta Rumania
dan Bulgaria. Untuk mencapai protokol Kyoto ini, semua negara terus menciptakan
teknologi yang ramah lingkungan, terutama negara maju. Karena, negara maju yang
banyak mengeluarkan CO2 penyebab rumah kaca.
Dengan mengedepankan
Protokol Kyoto, industri-industri stategis seperti industri migas, industri
transportasi, industri minyak dan gas didorong untuk menggunakan energi
alternatif yang ramah lingkungan. Artinya, sedapat mungkin meninggalkan
penggunaan migas yang merupakan sumber utama emisi gas karbon.
Lima besar negara
penyumbang emisi Gas Rumah Kaca terbesar adalah :
1. Amerika Serikat
2. Tiongkok
3. Rusia
4. India
5. Jepang
(sumber :
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC))
Sejumlah negara industri
maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Australia hingga kini belum menandatangi
protokol ini. Mereka beranggapan, kesepakatan ini akan mengancam masa depan industi
mereka. Padahal, AS tercatat sebagai salah satu negara penyumbang emis gas
karbon terbesar di dunia.
Penolakan terhadap
perjanjian ini di Amerika Serikat terutama dikemukakan oleh industri minyak,
industri batubara dan perusahaan-perusahaan lainnya yang produksinya tergantung
pada bahan bakar fosil. Para penentang ini mengklaim bahwa biaya ekonomi yang
diperlukan untuk melaksanakan Protokol Kyoto dapat menjapai 300 milyar dollar
AS, terutama disebabkan oleh biaya energi.
KAPITALISME TELAH
MERUSAK KESEIMBANGAN ALAM
Penolakan Amerika
Serikat dan Australia untuk melaksanakan Protokol Kyoto telah menunjukkan bahwa
kapitalisme yang mereka emban lebih mementingkan keuntungan materi dari pada
kepentingan bersama yang lebih besar. Dengan demikian, usaha mengurangi emisi gas
rumah kaca tidak mungkin bisa dilakukan secara signifikan, karena tidak adanya
kepedulian atas berbagai dampak buruk pemanasan global yang telah diprediksi
oleh para ahli.
Selain itu kapitalisme
juga mengutamakan kepemilikan individu dan pendekatan yang utilitarian
(mementingkan kemanfaatan) telah melahirkan sikap eksploitatif atas sumber daya
alam seraya mengabaikan aspek moralitas Hal ini yang mengakibatkan hak
penguasaan sumber daya alam, khususnya hutan bisa jatuh ke tangan individu.
Padahal kelestarian hutan sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan alam
yang dibutuhkan bagi kehidupan manusia, tumbuhan dan hewan, serta seluruh
ekosistem.
Prinsip kapitalisme yang
mementingkan keuntungan dan mengutamakan kepemilikan individu terhadap sumber
daya alam berakibat rusaknya keseimbangan alam. Selama ide kapitalisme masih
diemban, maka kehidupan dan alam akan senantiasa pada posisi yang tidak
seimbang. Akibatnya, musibah akan senantiasa mengancam kehidupan manusia, hewan
dan tumbuhan. Dengan kenyataan tersebut, tentu sangat mengherankan apabila
masih banyak manusia berharap dan merasa nyaman hidup dengan kapitalisme.
Pemanasan
global menurut agama
(Telah nampak kerusakan
di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah
merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka
kembali (ke jalan yang benar)). (QS. Ar-Ruum : 41)
Ayat Allah diatas
menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi di darat dan di laut karena aktifitas
manusia yang tidak mengikuti jalan yang benar (syariat Allah). Akibatnya,
musibah akan senantiasa mengancam kehidupan manusia. Oleh karena itu, penerapan
syariat Allah merupakan satu-satunya jalan untuk memperbaiki
kerusakan-kerusakan yang telah terjadi. Sedangkan syariat Allah hanya bisa
diterapkan apabila ada institusi yang menerapkannya.
KHILAFAH HARUS MEMIMPIN
DUNIA
Khilafah adalah
institusi satu-satunya yang akan menerapkan syariat Allah di muka bumi.
Penerapan syariat yang sesuai kehendak Allah sebagai pemilik bumi dan seisinya
tentu akan mampu memberikan dampak positif pada keseimbangan alam. Karena itu,
sudah menjadi kewajiban khalifah sebagai pemegang amanah dari Allah untuk
selalu berusaha menjaga keseimbangan alam dan menghilangkan segala bentuk
kemudharatan atau bahaya yang akan menimpa seluruh kehidupan karena akibat
aktifitas manusia. Amanah ini didasarkan pada sabda Rasul SAW.:
“Imam adalah ibarat penggembala
dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya (rakyatnya).” (HR. Muslim)
Kaidah fikih menyebutkan
, “Adh-dlarar yuzal”,
artinya segala bentuk kemudharatan atau bahaya itu wajib dihilangkan. Hal ini
didasarkan pada sabda Nabi SAW “Laa dharara wa laa dhiraara.” (HR Ahmad &
Ibn Majah), artinya tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun membahayakan
orang lain.
Oleh karena itu sebagai
upaya menjaga keseimbangan alam, maka Khalifah wajib menetapkan kebijakan untuk
kemaslahatan umum dalam mengatasi pemanasan global, sebagai berikut :
1. Memperbanyak tanaman
untuk menyerap gas rumah kaca yang berlebih
1. Menjaga dan mengelola
hutan sesuai syariah
2. Menjaga keseimbangan
antara tingkat polusi dan RTH (Ruang
Terbuka Hijau) di setiap
wilayah
3. Mewajibkan rakyat
menjaga lingkungan masing-masing
4. Menghidupkan
tanah-tanah mati.
5. Mengambil alih
tanah-tanah yang tidak dikelola selama tiga
tahun dan memberikan
kepada orang lain untuk mengelolanya.
2. Mengurangi emisi gas
karbon dari industri, transportasi dan
eksplorasi sumber daya
alam
1. Mengadopsi sains dan
tehnologi yang bisa menjaga kelestarian
lingkungan
2. Menciptakan
mesin-mesin industri dan transportasi yang ramah
lingkungan, termasuk
menyediakan sistem transportasi yang baik
3. Memberi subsidi untuk
konversi bahan bakar industri yang
ramah lingkungan
4. Mendorong penelitian
dan pengembangan bahan bakar alternatif
yang ramah lingkungan
5. Menetapkan metode
yang ramah lingkungan untuk eksplorasi,
misalnya metode carbon
sequestration
3. Menyiapkan SDM peduli
lingkungan dan undang-undangnya
1. Memberi pendidikan
kelestarian lingkungan lewat jalur formal
dan non formal
2. Menyiapkan dan
menyebar para qodli hisbah dan polisi
3. Membuat Undang-undang
kelestarian lingkungan hidup
4. Melakukan dakwah dan
jihad
Dakwah dan jihad merupakan sarana agar Khilafah memimpin dunia
dengan Islam, sehingga menjadi rahmat bagi seluruh alam, yang akibatnya
keseimbangan alam bisa terjaga secara menyeluruh (global)
Begitu pentingnya
kehadiran khilafah untuk menyelamatkan manusia dan lingkungannya, maka wilayah
kekuasaan khilafah harus meliputi seluruh dunia. Karena tentu tidak ada artinya
apabila kebijakan yang berwawasan lingkungan tersebut hanya diterapkan di
sebagian wilayah di dunia, sedangkan sebagian yang lain mengabaikannya. Dengan
kondisi tersebut keseimbangan alam tidak akan tercapai secara maksimal, yang
berarti masih ada potensi kerusakan dan ketidak seimbangan alam yang bisa
menyebabkan musibah bagi manusia. Jadi, khilafah memang harus memimpin dunia
dengan Islam, sehingga keseimbangan alam terjaga sepenuhnya untuk menyelamatkan
seluruh kehidupan dari musibah.
Akibat belebih-lebihan
Lingkungan memiliki daya lenting berupa kemampuan untuk kembali ke keadaan semula setelah diintervensi. Lingkungan dapat kembali ke keadaan keseimbangan apabila terjadi intervensi, namun tingkat pengembaliannya memerlukan banyak waktu. Kecepatan intervensi manusia sendiri tergantung dari tingkat kebutuhan dan keinginannya.
Lingkungan memiliki daya lenting berupa kemampuan untuk kembali ke keadaan semula setelah diintervensi. Lingkungan dapat kembali ke keadaan keseimbangan apabila terjadi intervensi, namun tingkat pengembaliannya memerlukan banyak waktu. Kecepatan intervensi manusia sendiri tergantung dari tingkat kebutuhan dan keinginannya.
Penyebab utama pemanasan global adalah pembakaran bahan
bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas
karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke
atmosfer. Pembakaran bahan bakar fosil umumnya disebabkan aktivitas industri,
transportasi, dan rumah tangga. Aktivitas tersebut meningkat seiring dengan
pertambahan penduduk dan keinginan masyarakat modern yang semakin beragam.
Pandangan Islam mengenai pertambahan penduduk dan keinginan
masyarakat modern yang makin beragam adalah mengingatkan agar tindakan dan
kebutuhan manusia tidak berlebih-lebihan (Al-Isra:27). Kebutuhan manusia dapat
diperhitungkan dan dipenuhi oleh sumber alam yang ada di muka bumi, namun
keinginan manusia sangatlah banyak. Memenuhi semua keinginan manusia hanya akan
memperburuk keadaan. Perbandingan pola produksi dan konsumsi di antara negara
berkembang dan negara maju membuktikan hal tersebut.
Dari data World Resources Institute tahun 1994 menunjukkan
bahwa pada tahun 1991 AS mengkonsumsi energi hampir tiga kali lipat lebih banyak
dari Jepang untuk menghasilkan 1 dolar AS GNP-nya. Dengan penduduk yang hanya
4,6 persen dari penduduk dunia, pada tahun 1991 AS menghasilkan 22 persen emisi
global CO2. Dengan pola konsumsi energi sebagai indikator bagi lingkungan yang
berkelanjutan, kelahiran bayi di AS menghasilkan 2 kali lipat dampak lingkungan
bagi bumi dibandingkan seorang bayi yang lahir di Swedia, 3 kali lipat
dibanding di Italia, 13 kali lipat dibanding Brazil, 35 kali dari India, dan
140 kali lipat dibanding Bangladesh.
Berbagai macam solusi telah ditawarkan untuk mengurangi
dampak pemanasan global seperti menanam pohon untuk menyerap gas karbon
dioksida yang ada di udara, mengurangi penggunaan barang-barang yang tidak
dapat didaur ulang, mengurangi emisi CFC, dan sebagainya. Alquran lebih jauh
membahas solusi permasalahan tersebut dari sikap preventif yaitu dengan tidak
berlebih-lebihan atau tidak bersikap boros (Al-Furqan:67).
Oleh karena itu, pertemuan-pertemuan internasional
seharusnya membahas mengenai standar hidup maksimal. Standar hidup maksimal
meliputi gaya hidup, pemakaian rumah, penggunaan air, atau yang sejenisnya.
Gaya hidup berlebihan seperti memiliki pakaian, sepatu, dan perhiasan yang
jumlahnya sangat banyak padahal penggunaannya sangat jarang, perlu dibatasi.
Penggunaan pesawat jet pribadi yang hanya mengangkut 1 atau
2 orang artis, atau mobil yang hanya berpenumpang 1 atau 2 orang dapat
menyebabkan pemborosan sumber energi. Pembangunan rumah yang memiliki kamar
sangat banyak padahal hanya digunakan oleh beberapa orang juga perlu dibatasi.
Penggunaan air dalam rumah tangga perlu diatur sesuai dengan kebutuhan dasar
dan jumlah orang yang ada di rumah tersebut.
Rasulullah telah mengingatkan kita bahwa apa yang ada di
dunia ini akan sirna dan apa yang kita berikan adalah kepunyaan kita
sesungguhnya di akhirat. Karena itu, pemilikan atau penggunaan barang yang
berlebihan sangat tidak dianjurkan dalam Islam. Islam menuntun agar setiap
manusia lebih banyak memberi daripada memiliki.
Dari data World Resources Institute tahun 1994 menunjukkan
bahwa pada tahun 1991 AS mengkonsumsi energi hampir tiga kali lipat lebih
banyak dari Jepang untuk menghasilkan 1 dolar AS GNP-nya. Dengan penduduk yang
hanya 4,6 persen dari penduduk dunia, pada tahun 1991 AS menghasilkan 22 persen
emisi global CO2. Dengan pola konsumsi energi sebagai indikator bagi lingkungan
yang berkelanjutan, kelahiran bayi di AS menghasilkan 2 kali lipat dampak
lingkungan bagi bumi dibandingkan seorang bayi yang lahir di Swedia, 3 kali
lipat dibanding di Italia, 13 kali lipat dibanding Brazil, 35 kali dari India,
dan 140 kali lipat dibanding Bangladesh.
Berbagai macam solusi telah ditawarkan untuk mengurangi
dampak pemanasan global seperti menanam pohon untuk menyerap gas karbon
dioksida yang ada di udara, mengurangi penggunaan barang-barang yang tidak
dapat didaur ulang, mengurangi emisi CFC, dan sebagainya. Alquran lebih jauh
membahas solusi permasalahan tersebut dari sikap preventif yaitu dengan tidak
berlebih-lebihan atau tidak bersikap boros (Al-Furqan:67).
Oleh karena itu, pertemuan-pertemuan internasional
seharusnya membahas mengenai standar hidup maksimal. Standar hidup maksimal
meliputi gaya hidup, pemakaian rumah, penggunaan air, atau yang sejenisnya.
Gaya hidup berlebihan seperti memiliki pakaian, sepatu, dan perhiasan yang
jumlahnya sangat banyak padahal penggunaannya sangat jarang, perlu dibatasi.
Penggunaan pesawat jet pribadi yang hanya mengangkut 1 atau
2 orang artis, atau mobil yang hanya berpenumpang 1 atau 2 orang dapat
menyebabkan pemborosan sumber energi. Pembangunan rumah yang memiliki kamar
sangat banyak padahal hanya digunakan oleh beberapa orang juga perlu dibatasi.
Penggunaan air dalam rumah tangga perlu diatur sesuai dengan kebutuhan dasar
dan jumlah orang yang ada di rumah tersebut.
Rasulullah telah mengingatkan kita bahwa apa yang ada di
dunia ini akan sirna dan apa yang kita berikan adalah kepunyaan kita
sesungguhnya di akhirat. Karena itu, pemilikan atau penggunaan barang yang
berlebihan sangat tidak dianjurkan dalam Islam. Islam menuntun agar setiap
manusia lebih banyak memberi daripada memiliki.
Solusi permasalahan pemanasan global tidak hanya terkait
dengan mengubah energi fosil menjadi energi biofuel atau energi alternatif
lainnya. Menurut Alquran, semua tindakan berlebihan pada akhirnya akan
merugikan manusia. Penggunaan sumber energi massal akan menyebabkan output
dalam jumlah massal. Bahan apapun apabila dibuang dalam jumlah banyak dan dalam
waktu yang cepat, pasti akan mempengaruhi keseimbangan lingkungan.
Oleh karena itu mengubah sumber energi dari energi fosil
menjadi energi biofuel tidak menjamin lingkungan akan aman, sebab pembakaran
biofuel pasti akan menghasilkan polutan dalam jumlah massal dan dalam waktu
yang cepat. Penggunaan energi hendaknya bersumber dari energi yang paling mudah
didapatkan, paling murah biayanya, dan paling mudah mengoperasikannya di suatu
daerah.
Bahaya penyeragaman
Pertanian yang dituding menjadi pemicu pemanasan global karena penggunaan pupuk, peptisida, dan konversi lahan dari hutan menjadi pertanian perlu juga dikaji. Sentralisasi yang dilakukan oleh orde baru terhadap pola makan bangsa Indonesia menyebabkan ketergantungan rakyat Indonesia terhadap beras sangat tinggi. Dulu beberapa kelompok masyarakat di Indonesia punya sumber-sumber pangan alternatif.
Pertanian yang dituding menjadi pemicu pemanasan global karena penggunaan pupuk, peptisida, dan konversi lahan dari hutan menjadi pertanian perlu juga dikaji. Sentralisasi yang dilakukan oleh orde baru terhadap pola makan bangsa Indonesia menyebabkan ketergantungan rakyat Indonesia terhadap beras sangat tinggi. Dulu beberapa kelompok masyarakat di Indonesia punya sumber-sumber pangan alternatif.
Semestinya perbedaan sumber makanan itu disyukuri sebagai
rahmat dari Allah. Penyeragaman sumber makanan menyebabkan ketergantungan pada
sumber tertentu yang belum tentu cocok ditanam di wilayah tertentu sehingga
menyebabkan kerusakan lingkungan.
Selain itu, penyeragaman sumber makanan menyebabkan
ekosistem di beberapa daerah berubah karena lahan yang semula tidak
diperuntukan dan tidak cocok untuk pertanian, dipaksakan untuk menjadi lahan
pertanian. Keanekaragaman hayati di daerah itu pun menjadi terancam musnah.
Hewan-hewan yang biasa makan dari hasil hutan terancam punah dan beberapa
binatang merusak lahan pertanian karena kehilangan tempat berlindung dan sumber
makanan.
Allah telah menciptakan alam dengan berbeda-beda jenisnya
sesuai dengan keadaan masyarakat. Allah juga telah menciptakan sesuatu sesuai
dengan kadarnya. Produksi yang tidak berasal dari daerah setempat, baik bahan
mentah maupun sumber daya, akan menyebabkan ketergantungan daerah tersebut pada
sumber daya asing. Tambahan lagi produksi massal tentu akan menghasilkan jumlah
polutan atau limbah yang massal juga. Sebenarnya alam memiliki kemampuan
menyerap polutan yang timbul tetapi apabila jumlahnya banyak dan dalam waktu
yang cepat maka alam tentu tidak akan sanggup melakukannya.
KESIMPULAN
1. Pemanasan Global
telah mengancam kehidupan manusia, tumbuhan dan hewan
2. Pemanasan Global
merupakan dampak negatif dari aktifitas manusia
yang tidak diatur
berdasarkan syariat Allah
3. Kapitalisme yang
mendasari aktifitas manusia tersebut telah
terbukti merusak
keseimbangan alam dan tidak mampu menyelesaikan
masalah tersebut
4. Khilafah adalah
institusi satu-satunya harapan seluruh manusia
yang akan mampu
mengatasi pemanasan global dan menyelamatkan
kehidupan seluruhnya.
-
Pemanasan global yang kini terjadi, sepenuhnya merupakan dampak dari perilaku
berlebih-lebihan manusia di dunia.
- Allah SWT telah menciptakan alam dengan segala keseimbangannya, namun perilaku manusia kemudian merusak keseimbangan itu. – Karena itu, solusi yang ditawarkan Islam untuk menangkal pemanasan global adalah menghentikan gaya hidup yang berlebih-lebihan.
- Allah SWT telah menciptakan alam dengan segala keseimbangannya, namun perilaku manusia kemudian merusak keseimbangan itu. – Karena itu, solusi yang ditawarkan Islam untuk menangkal pemanasan global adalah menghentikan gaya hidup yang berlebih-lebihan.
(Ir. R-the Ice)
*Rujukan :*
1.
Jawa Pos edisi Selasa 10 April 2007 – Fenomena Pemanasan Global dan
Pengaruhnya
di Indonesia
2.
Majalah Suara Hidayatullah edisi April 2007 – Ihwal : Bumi Semakin
Mencemaskan
3.
Nurhadi – Surabaya Post edisi 24 April 2006 – Ancaman Pemanasan Global
4.
Republika edisi 12 Maret 2007 – Atasi Pemanasan Global dengan Energi
Alternatif
5.
Tempo Interaktif edisi 11 Januari 2007 – Bumi Makin Panas
6.
Wikipedia Indonesia (Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia) – Efek
Rumah
Kaca
7.
Wikipedia Indonesia (Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia) – Gas Rumah
Kaca
8.
Pikiran Rakyat edisi 19 September 2006 – Nyamuk Ganas akibat Pemanasan
Global
9.
Wikipedia Indonesia (Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia) – Pemanasan
Global
11.
Republika edisi 29 Maret 2007 – Pemanasan Global Cairkan Seluruh Es di
Bumi
12.
Shiddiq Al Jawi – Pengelolaan Hutan Berdasarkan Syariah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar