Jumat, 06 April 2012

Makalah Tentang Lingkungan Perkotaan


BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG.
Memasuki milenium baru Departemen Kesehatan telah mencanangkan Gerakan
Pembangunan Berwawasan Kesehatan, yang dilandasi paradigma sehat.
Paradigma sehat adalah cara pandang, pola pikir atau model pembangunan
kesehatan yang bersifat holistik, melihat masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh
banyak faktor yang bersifat lintas sektor, dan upayanya lebih diarahkan pada
peningkatan, pemeliharaan dan perlindangan kesehatan. Secara makro paradigma
sehat berarti semua sektor memberikan kontribusi positif bagi pengembangan
perilaku dan lingkungan sehat, secara mikro berarti pembangunan kesehatan lebih
menekankan upaya promotif dan preventif tanpa mengesampingkan upaya kuratif
dan rehabilitatif.
Berdasarkan paradigma sehat ditetapkan visi Indonesia Sehat 2010, dimana ada 3
pilar yang perlu mendapat perhatian khusus, yaitu lingkungan sehat, perilaku
sehat dan pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata. Untuk perilaku
sehat bentuk konkritnya yaitu perilaku proaktif memelihara dan meningkatkan
kesehatan. mencegah risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman
penyakit serta berpartisipasi aktif dalam upaya kesehatan.
Dalam mewujudkan visi Indonesia Sehat 2010 telah ditetapkan misi pembangunan
yaitu menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan. mendorong
kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. memelihara dan meningkatkan
pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau, serta memelihara dan
meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyaralat beserta lingkungannya.
Untuk melaksanakan misi pembangunan kesehatan diperlukan promosi kesehatan,
hal ini disebabkan program promosi kesehatan berorientasi pada proses
pemberdayaan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat, melalui
peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan kesehatannya. Hal ini sesuai dengan
yang ditekankan dalam paradigma sehat, dan salah satu pilar utama Indonesia Sehat
2010.
Seiring dengan cepatnya perkembangan dalam era globalisasi, serta adanya transisi
demografi dan epidemiologi penyakit, maka masalah penyakit akibat perilaku dan
perubahan gaya hidup yang berkaitan dengan perilaku dan sosial budaya cenderung
akan semakin kompleks. Perbaikannya tidak hanya dilakukan pada aspek pelayanan
kesehatan, perbaikan pada lingkungan dan merekayasa kependudukan atau faktor
keturunan, tetapi perlu memperhatikan faktor perilaku yang secara teoritis memiliki
andil 30 - 35 % terhadap derajat kesehatan.
Mengingat dampak dari perilaku terhadap derajat kesehatan cukup besar, maka
diperlukan berbagai upaya untuk mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat.
Salah satunya melalui program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Program Perilaku hidup Bersih dan Sehat (PHBS) telah diluncurkan sejak tahun 1996
oleh Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, yang sekarang bernama Pusat
Promosi Kesehatan. Sebagai daerah model/laboratoriumnya adalah Kabupaten
Bekasi dan Kabupaten Tangerang, Provinsi Jawa Barat.
Berbagai kegiatan telah dilakukan untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan
program PHBS, mulai dari pelatihan petugas pengelola PHBS tingkat Provinsi,
Kabupaten/Kota sampai dengan Puskesmas, memproduksi dan menyebarkan buku
Panduan Manajemen Penyuluh Kesehatan Masyarakat tingkat Provinsi, Kabupaten,
dan Puskesmas; memproduksi dan menyebarkan buku Pedoman Pembinaan
Program PHBS di tatanan rumah tangga, tatanan tempat umum, tatanan sarana
kesehatan, serta membuat buku saku PHBS untuk petugas puskesmas.
Hasilnya sampai tahun 2001 tenaga kesehatan yang telah terlatih PHBS tingkat
provinsi 100% (30 provinsi), 76% kabupaten/kota, 71.3% puskesmas. Pencapaian
klasifikasi III dan IV (1998) 38.89% tatanan rumah tangga, 50% institusi pendidikan,
33.3% tatanan tempat kerja, 35.3% tatanan tempat umum.
Masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan program PHBS adalah kemitraan/
dukungan lintas program/lintas sektor rendah, kemampuan teknis petugas rendah,
mutasi petugas terlatih, alokasi dana terbatas, perubahan struktur organisasi,
Indikator PHBS skala Nasional, indikator PHBS tatanan, pemetaan tatanan sehat,
pemetaan PHBS individu.
Altematif pemecahan adalah melalui kegiatan advokasi kebijakan, koordinasi dan
keterpaduan manajemen, peningkatan kemampuan teknis pelaksana PHBS,
menetapkan indikator PHBS individu skala nasional dan pembobotan, menetapkan
indikator PHBS tatanan, melakukan asistensi, pemetaan tatanan sehat serta PHBS
individu.
Berdasarkan masukan dari lapangan, salah satu altematif pemecahan masalah yang
perlu segera dilaksanakan adalah review buku Panduan Manajemen Penyuluhan
Kesehatan Masyarakat tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota dan Puskesmas yang
dikeluarkan tahun 1997, karena buku panduan tersebut sudah tidak cocok lagi
digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pada era otonomi daerah. Untuk itu perlu
perbaikan mulai dari pengkajian sampai dengan pemantauan dan penilaian.
Tujuan disusunnya buku panduan ini untuk memberikan gambaran, arahan, acuan
bagi pengelola program PHBS, sehingga dapat melaksanakan tugas pekerjaan yang
terkait dengan pembinaan program PHBS dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat
saling mengisi dan bekerjasama dalam melaksanakan program pembangunan
kesehatan.
B. PENGERTIAN
1. Perilaku Sehat
Adalah pengetahuan, sikap dan tindakan proaktif untuk memelihara dan mencegah
risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif
dalam Gerakan Kesehatan Masyarakat.
2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Adalah wujud keberdayaan masyarakat yang sadar, mau dan mampu mempraktekkan
PHBS. Dalam hal ini ada 5 program priontas yaitu KIA, Gizi, Kesehatan
Lingkungan, Gaya Hidup, Dana Sehat/Asuransi Kesehatan/JPKM.
3. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu
kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka
jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan
pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (Advokasi), bina
suasana (Social Support) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment). Dengan
demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama
dalam tatanan masing-masing, dan masyarakat/dapat menerapkan cara-cara hidup
sehat dengan menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
4. Tatanan
Adalah tempat dimana sekumpulan orang hidup, bekerja, bermain, berinteraksi dan
lain-lain. Dalam hal ini ada 5 tatanan PHBS yaitu Rumah Tangga, Sekolah, Tempat
Kerja, Sarana Kesehatan dan Tempat Tempat Umum.
5. Kabupaten Sehat/Kota Sehat
Adalah kesatuan wilayah administrasi pemerintah terdiri dari desa-desa, kelurahan.
kecamatan yang secara terus menerus berupaya meningkatkan kemampuan
masyarakat untuk hidup sehat dengan prasarana wilayah yang memadai, dukungan
kehidupan sosial, serta perubahan perilaku menuju masyarakat aman, nyaman dan
sehat secara mandiri.
6. Manajemen PHBS
Adalah pengelolaan PHBS yang dilaksanakan melalui 4 tahap kegiatan. yaitu 1).
Pengkajian, 2). Perencanaan, 3). penggerakkan pelaksanaan, 4). pemantauan dan
penilaian.
BAB II
MANAJEMEN PROGRAM PHBS
A. Kerangka Konsep
Untuk mewujudkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ditiap tatanan;
diperlukan pengelolaan manajemen program PHBS melalui tahap pengkajian,
perencanaan, penggerakan pelaksanaan sampai dengan pemantauan dan
penilaian. Selanjutnya kembali lagi ke proses semula. Untuk lebih jelasnya
digambarkan dalam bagan berikut ini :
Pengkajian
PROMOSI
KESEHATAN
Penindaklanjutan
Selanjutnya dalam program promosi kesehatan dikenal adanya model pengkajian
dan penindaklanjutan (precede proceed model) yang diadaptasi dari konsep L W
Green:
Model ini mengkaji masalah perilaku manusia dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya, serta cara menindaklanjutinya dengan berusaha mengubah,
memelihara atau meningkatkan perilaku tersebut kearah yang lebih positif. Proses
pengkajian mengikuti anak panah dari kanan ke kiri, sedang proses penindaklanjutan
dilakukan dari kiri ke kanan. Dengan demikian manajemen PHBS adalah penerapan
keempat proses manajemen pada umumnya ke dalam model pengkajian dan
penindaklanjutan.
?? Kualitas hidup adalah sasaran utama yang ingin dicapai di bidang
Pembangunan sehingga kualitas hidup ini sejalan dengan tingkat sesejahteraan.
Diharapkan semakin sejahtera maka kualitas hidup semakin tinggi. kualitas hidup
Pemantauan
Penilaian
Pengkajian
Perencanaan
Penggerakan
Pelaksanaan
PENYULUHAN
KESEHATAN
?? KEBIJAKAN
??PERATURAN
?? ORGANISASI
FAKTOR
PEMUNGKIN
FAKTOR
PEMUDAH
FAKTOR
PENGUAT
FAKTOR
LINGKUNGAN
DERAJAT
KESEHATAN
FAKTOR
PERILAKU
DAN GAYA
HIDUP
KUALITAS
HIDUP
ini salah satunya dipengaruhi oleh derajat kesehatan. Semakin tinggi derajat
kesehatan seseorang maka kualitas hidup juga semakin tinggi.
?? Derajat kesehatan adalah sesuatu yang ingin dicapai dalam bidang kesehatan,
dengan adanya derajat kesehatan akan tergambarkan masalah kesehatan yang
sedang dihadapi. Yang paling besar pengaruhnya terhadap derajat kesehatan
seseorang adalah faktor perilaku dan faktor lingkungan. Contoh seseorang
menderita diare karena minum air yang tidak dimasak (masalah perilaku),
seseorang menderita kanker paru padahal orang itu tidak merokok tetapi
kehidupannya tidak lepas dari lingkungan kerja yang merokok (masalah
lingkungan).
?? Faktor lingkungan adalah faktor fisik, biologis dan sosial budaya yang
langsung/tidak mempengaruhi derajat kesehatan.
?? Faktor perilaku dan gaga hidup adalah suatu faktor yang timbul karena adanva
aksi dan reaksi seseorang atau organisme terhadap lingk-umgannya. Faktor
perilaku akan terjadi apabila ada rangsangan, sedangkan gaga hidup merupakan
pola kebiasaan seseorang atau sekelompok orang yang dilakukan karena jenis
pekerjaannya mengikuti trend yang berlaku dalam kelompok sebayanya, ataupun
hanya untuk meniru dari tokoh idolanya. Contoh seseorang yang mengidolakan
aktor atau artis yang tidak merokok.
Dengan demikian suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku
tertentu. Ada 3 faktor penyebab mengapa seseorang melakukan perilaku tertentu
yaitu faktor pemungkin, faktor pemudah dan faktor penguat.
?? Faktor pemungkin adalah faktor pemicu terhadap perilaku yang memungkinkan
suatu motivasi atau aspirasi terlaksana. Ternasuk didalamnya keterampilan
petugas kesehatan, ketersediaan sumber daya dan komitmen masyarakat atau
pemerintah terhadap kesehatan. Contoh petugas penyuluhan menyarankan agar
masyarakat dapat mengkonsumsi tempe, karena selain murah juga mengandung
gizi yang tinggi. Tetapi karena di daerah tersebut tidak ada produsen tempe,
maka hal tersebut tidak dapat diterapkan.
?? Faktor pemudah adalah faktor pemicu atau anteseden terhadap perilaku yang
menjadi dasar atau motivasi bagi perilaku. Misalnya pengetahuan, sikap,
keyakinan dan nilai yang dimiliki oleh seseorang. Contoh seseorang tidak
merokok karena mereka yakin bahwa rokok dapat membahayakan kesehatan.
?? Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan
memperoleh dukungan atau tidak. Faktor ini terwujud dalam bentuk sikap dan
perilaku petugas kesehatan atau petugas lainnya yang merupakan kelompok
yang dipercaya oleh masyarakat. Contoh petugas kesehatan memberikan
keteladanan dengan melakukan cuci tangan sebelum makan, atau selalu minum
air yang sudah dimasak.
Ketiga faktor penyebab tersebut di atas dipengaruhi oleh faktor penyuluhan dan
faktor kebijakan. peraturan serta organisasi. Semua faktor faktor tersebut
merupakan ruang lingkup promosi kesehatan.
?? Faktor lingkungan adalah segala faktor bail: fisik. biologis maupun sosial
budaya yang langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi derajat
kesehatan.
Promosi kesehatan adalah -proses memandirikan masyarakat agar dal memelihara
dan meningkatkan kesehatannya (Ottawa Charter 1986).Prom kesehatan lebih
menekankan pada lingkungan untuk terjadinya perubahan perilaku. Contohnya
masyarakat dihimbau untuk membuang sampah di tempatnya, selanjutnya diterbitkan
peraturan dilarang membuang sampah sembarangan. Himbauan dan peraturan tidak
akan berjalan, apabila tidak diikuti dengan penyediaan fasilitas tempat sampah yang
memadai.
Demikian penjelasan singkat mengenai precede proceed model yang dikaitkan
dengan program PHBS. Selanjutnya sebelum melaksanakan langkah-langkah
manajemen PHBS, terlebih dahulu dilakukan kegiatan persiapan yang meliputi :
1. Persiapan sumber daya manusia, tujuannya untuk meningkatkan pemahaman
dan komitmen pengelola program Promkes, bentuk kegiatanya yaitu :
a. Pemantapan program PHBS bagi pengelola program Promkes (internal)
b. Sosialisasi dan advokasi kepada para pengambil keputusan
c. Pertemuan lintas program dan pertemuan lintas sektor
d. Pelatihan PHBS
e. Lokakarya PHBS
f. Pertemuan koordinasi dengan memanfaatkan forum yang sudah benjalan
baik resmi maupun tidak resmi.
2. Persiapan teknis dan administratif, tujuannya untuk mengidentifikasi
kebutuhan sarana baik jumlah, jenis maupun sumbernya serta dana yang,
diperlukan.
Persiapan administrasi, dilakukan melalui :
a. Surat menyurat, membuat surat undangan, dll.
b. Penyediaan ATK, transportasi, AVA, dana, dll.
c. Pencatatan dan pelaporan.
d. Pemantauan.
B. Tahap Pengkajian
Tujuan pengkajian adalah untuk mempelajari, menganalisis dan merumuskan
masalah perilaku yang berkaitan dengan PHBS. Kegiatan pengkajian meliputi
pengkajian PHBS secara kuantitatif, pengkajian PHBS secara kualitatif dan
pengkajian sumber daya (dana, sarana dan tenaga)
1. Pengkajian masalah PHBS secara kuantitatif. Langkah-langkah kegiatan
sebagai berikut :
a. Pengumpulan Data Sekunder
Kegiatan ini meliputi data perilaku dan bukan perilaku yang berkaitan
dengan 5 program prioritas yaitu KIA, Gizi, Kesehatan lingkungan, gaya
hidup, dan JPKM dan data lainnya sesuai dengan kebutuhan daerah.
Data tersebut dapat dipefoleh dari Puskesmas, Rumah Sakit dan sarana
pelayanan kesehatan lainnya. Data yang diperoleh dianalisis secara
deskriptif sebagai informasi pendukung untuk memperkuat permasalahan
PHBS yang ditemukan di lapangan. Selanjutnya dibuat simpulan hasil
analisis data sekunder tersebut.
Hasil yang diharapkan pada tahap pengkajian ini adalah :
?? Teridentifikasinya masalah perilaku kesehatan di wilayah tertentu
?? Dikembangkannya pemetaan PHBS pertatanan
?? Teridentifikasinya masalah lain yang berkaitan (masalah kesehatan,
faktor penyebab perilaku, masalah pelaksanaan dan sumber daya
penyuluhan, masalah kebijakan, administrasi, organisasi.
?? Dan lain-lain.
b. Cara Pengambilan Sampel PHBS Tatanan Rumah Tangga
Dalam melaksanakan pengumpulan data perilaku sehat di tatanan
rnunah tangaa secara keseluruhan terlalu berat untuk dilaksanakan, hal
ini disebabkan karena keterbatasan dana, waktu dan sumber daya yang
ada. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diambil sampel yang dapat
mewakili populasi.
Metoda Pengambilan sampel perilaku sehat di tatanan nunah tangga
adalah dengan rapid survai atau survai cepat (terlampir).
Sedangkan untuk tatanan lainnya dapat dilakukan keseluruh populasi.
Benkut ini cara pengambilan sampel tatanan rumah tangga di tingkat
kabupaten/kota.
Untuk menbaukur masalah PHBS di tatanan rumah tangga, maka jumlah
sampel harus mencukupi. Perhitungan sampel sederhana yang
direkomendasikan WHO yaitu :
30 x 7 = 210 rumah tangga (30 kluster dan 7 rumah tangga per kluster).
Di tingkat kabupaten/kota kluster dapat disetarakan dengan kelurahan
atau desa. Ada 2 tahapan kluster yang digunakan untuk tatanan rumah
tangga, tahap pertama dapat dipilih sejumlah kluster (kelurahan /desa),
tahap kedua ditentukan rumah tangganya.
Langkah-langkah cara pengambilan sampel tatanan rumah tangga
??Langkah 1 : List kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten
??Langkah 2 : Tulis jumlah desa yang berada pada masingmasing
kecamatan
??Langkah 3 : Beri nomor urut desa mulai no 1 sampai terakhir
??Langkah 4 : Hitung interval desa dengan cara total desa / 30
= X
??Langkah 5 : Tentukan nomor Muster pertama desa. dengan
mengundi nomor unit desa. selanj utnya desa
kedua dapat ditentukan dengan menambahkan
interval. Demikian seterusnya hingga diperoleh 30
kluster.
??Langkah 6 : Dan desa yang terpilih diambil secara acak 7
rumah tangga.
c. Analisis dan Pemetaan PHBS
Berdasarkan hasil pendataan, data tersebut diolah dan dianalisis dengan
cara manual atau dengan menggunakan program EPI INFO. Selanjutnya
dapat dibuat pemetaan nilai IPKS (Indeks Potensi Keluarga Sehat) dan
nilai PHBS sehat I, sehat II. sehat III dan sehat IV. Berdasarkan hasil
pemetaan, diharapkan semua masalah PHBS dapat diintervensi dengan
tepat dan terarah.
Pemetaan ini berguna sebagai potret untuk mengetahui permasalahan
yang ada di masyarakat dan memotivasi pengelola program untuk
meningkatkan klasifikasi PHBS. Diharapkan masyarakat yang
bersangkutan, lintas sektor. LSM peduli kesehatan, swasta khususnya
Pemda kabupaten / kota dan TP PKK mempunyai komitmen untuk
mendukung PHBS.
Berdasarkan kajian perilaku dan pemetaan wilayah, maka dihasilkan
Pemetaan PHBS, ditentukan prioritas masalah perilaku kesehatan, dan
ditentukan alternatif intervensi penyuluhan.
d. Menentukan Prioritas Masalah
Berdasarkan rumusan masalah yang ada kemudian dilakukan analisis
yang akan menjadi dasar pembuatan rencana intervensi. Caranya
dengan memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan dibawah
ini :
?? Dari masalah yang ada mana yang dapat dipecahkan dengan mudah
?
?? Mengapa terjadi demikian ?
?? Bagaimana penanggulangannya ?
?? Apa-rencana tindakannya ?
?? Berapa sumber dana yang tersedia ?
?? Siapa yang mengerjakan ?
?? Berapa lama mengerjakannya ?
?? Bagaimanakah jadwal kegiatan pelaksanaannya ?
Selanjutnya dilakukan strategi komunikasi PHBS, yang meliputi antara
lain pesan dan media yang akan dikembangkan, metode apa saja yang
digunakan. pelatihan yang perlu dilaksanakan dan menginventarisasi
sektor mana saja yang dapat mendukung PHBS.
2. Pengkajian PHBS secara kualitatif
Setelah ditentukan prioritas masalah perilaku, selanjutnya dilakukan
pengkajian kualitatif Tujuannya untuk memperoleh informasi yang lebih
mendalam tentang kebiasaan, kepercayaan, sikap, norma, budaya
perilaku masyarakat yang tidak terungkap dalam kajian kuantitatif PHBS.
Ada dua metoda untuk melakukan pengkajian PHBS secara kualitatif,
yaitu:
a. Diskusi Kelompok Terarah (DKT).
b. Wawancara Perorangan Mendalam (WPM).
Untuk lebih jelasnya diuraikan sebagai berikut :
a. DISKUSI KELOMPOK TERARAH (DKT)
Adalah diskusi informal bersama 6 s/d 10 orang, tujuannya untuk
mengungkapkan infonnasi yang lebih mendalam tentang masalah
perilaku PHBS.
Dalam DKT :
?? Diperlukan seorang pemandu yang terampil mendorong orang untuk
saling bicara dan memperoleh pemahaman tentang perasaan dan
pikiran peserta yang hadir terhadap masalah tertentu.
?? Melibatkan dan memberikan kebebasan peserta untuk
mengungkapkan pendapat dan perasaannya.
?? Memperoleh informasi tentang nilai-nilai kepercayaan dan perilaku
seseorang yang mungkin tidak terungkap melalui wawancara biasa.
b. WAWANCARA PERORANGAN MENDALAM (WPM)
Adalah wawanncara antara pewancara yang trampil dengan
perorangan selaku sumber informasi kunci, melalui serangkaian
tanyajavvab (dialog) yang bersifat terbuka dan mendalam. Dalam
WPM :
?? Pewawancara adalah seorang yang terampil dalam menggali
informasi secara mendalam tentang perasaan dan pikiran
tentang masalah tertentu.
?? Sumber informasi kunci adalah peserta wawancara yang
dianggap mampu dan dipandang menguasai informasi tentang
masalah tertentu.
?? Tanya jawab dilakukan secara terbuka dan mendalam
3. Pengkajian sumber daya (dana, tenaga dan sarana)
Pengkajian sumber daya dilakukan mark mendukung pelaksanaan
program PHBS, bentuk kegiatannya :
a. Kajian tenaga pelaksana PHBS, secara kuantitas (jumlah) dan
pelatihan yang pernah diikuti oleh lintas program maupun lintas
sektor.
b. Penjajagan dana yang tersedia di lintas program dan lintas sektoral
dalam jurnlah dan sumbernya.
c. Penjajagan jenis media dan sarana yang dibutuhkan dalam jumlah
dan sumbernya.
C. Tahap Perencanaan.
Penyusunan rencana kegiatan PHBS gunanya untuk menentukan tujuan, dan
strategi komunikasi PHBS Adapun langkah-langkah perencanaan sebagai
berikut:
1. MenentukanTujuan
Berdasarkan kegiatan pengkaj ian PHB S dapat ditentukan klasifikasi PHBS
wilayah maupun klasifikasi PHBS tatanan, maka dapat ditentukan masalah
perilaku kesehatan masyarakat di tiap tatanan dan wilayah. Selanjutnya.
berdasarkan masalah perilaku kesehatan dan hash pengkajian sumber daya
PKM. ditentukan tujuan yang akan dicapai untuk mengatasi masalah PHB S
yang ditemukan.
Contoh hasil pengkajian PHBS secara kuantitatifditemukan masalah merokok
pada tatanan rumah tangga, maka ditentukan tujuannya.
Tujuan Umum : Menurunkan prosentase keluarga yang tidak merokok
selama satu tahun.
Tujuan Khusus : Menunuikan prosentase tatanan rumah tangga yang
merokok. dari 40% menjadi 20%.
2. Menentukan jenis kegiatan intervensi
Setelah ditentukan tujuan, selanjutnya ditentukan jenis kegiatan Intervensi
yang akan dilakukan. Caranya adalah dengan mengembangkan berbagai
alternatif intervensi, kemudian dipilih intervensi mana yang bisa dilakukan.
dengan dikaitkan pada ketersediaan sumber daya.
Penentuan kegiatan intervensi terpilih didasarkan pada :
?? Prioritas masalah PHBS, yaitu dengan memilih topik penyuluhan yang
sesuai dengan urutan masalah PHBS.
?? Wilayah garapan, yaitu mengutamakan wilayah yang mempunyai PHBS
hasil kajian rendah.
?? Penentuan tatanan yang akan diintervensi , yaitu menentukan tatanan
yang akan digarap, baik secara menyeluruh atau sebatas pada tatanan
tertentu. Kemudian secara bertahap dikembangkan ke tatanan lain
?? Penentuan satu jenis sasaran untuk tiap tatanan, yaitu
mengembangkan PHBS pada tiap tatanan, tetapi hanya satu jenis
sasaran untuk tiap tatanan. Misalnya, satu unit tatanan sekolah. satu unit
pasar untuk tatanan tempat umum, satu unit industri rumah tangga untuk
tatanan tempat kerja. Rumusan rencana kegiatan intervensi terpilih pada
intinya menipakan operasionalisasi strategi PHBS, yaitu :
?? Advokasi. kegiatan pendekatan pada para tokoh / pimpinan vNilavah.
?? Bina Suasana. kegiatan mempersiapkan kerjasama lintas pro Gram.
limas sektor. organisasi kemasyarakatan. LSM. dunia usaha. swasta dll.
?? Gerakan masyarakat. kegiatan mempersiapkan dan menggerakkan
sumber daya. mulai mempersiapkan petugas. pengadaan media dan
sarana.
Kegiatan ini secara komprehensif harus ada dalam perencanaan, namun
untuk menentukan kegiatan apa yang lebih besar daya ungkitnya ditentukan
dari hasil pengkajian.
?? Contoh, dari hasil pengkaj ian diperoleh data bahwa masih banyak
keluarga yang membuang sampah sembarangan. Setelah dilakukan
analisis data kualitatif melalui FGD ternyata penyebabnya adalah tidak
adanya tempat sampah. Pada situasi ini kegiatan yang bernuansa bina
suasana akan lebih banyak porsinya dibanding dengan kegiatan lainnya,
,
?? Contoh lain, dari hasil pengkaj ian diperoleh data bahwa masih banyak
keluarga yang tidak memeriksakan kehamilannya. Setelah dilakukari
analisis kualitatif, diperoleh kesimpulan bahwa mereka tidak mengerti
manfaat pemeriksaan kehamilan. Kondisi seperti ini kegiatan gerakan
masyarakat akan lebih banyak dilakukan dibanding kegiatan lainnya.
Serangkaian altematif lain yang dapat dikembangkan berdasarkan hasil pengkajian
PHBS adalah :
- Rancangan intervensi penyuluhan massa dan kelompok
Penyuhrhan massa dilakukan dengan topik umum, yaitu PHBS yang secara
keseluruhan merupakan masalah di wilayah kerj a tersebut.
Penyuluhan kelompok dilakukan untuk mengatasi masalah PHBS yang lokal
sifatnya
- Rancangan intenvensi penyuluhan terpadu lintas program/sektor
Pemetaan wilayah menghasilkan rumusan masalah PHBS antar wilayah, sehingga
bisa dirancang " Paket Penyuluhan Terpadu " di vvilayah tersebut Misal : di desa A
terdapat 3 masalah utama. yaitu JPKM. Air bersih dan KIA/KB . maka dapat
dilakukan penyuluhan terpadu yang berisi 3 hal tersebut.
Disini petugas kesehatan berfungsi sebagai penggerak lintas prograpi dan lintas
sektor. untuk selanjutnya bersama-sama melaksanakan penyuluhan diwilayah
tersebut.
D. Tahap Perencanaan.
1. Advokasi (Pendekatan pada para pengambil keputusan)
Ditingkat keluarga/rumah tangga, strategi ini ditujukan kepada para kepala
keluarga/ bapak/suami, ibu, kakek, nenek. Tuiuannya agar para pengambil
keputusan di tingkat keluarga/nunah tangga dapat meneladani dalam berperilaku
sehat. memberikan dukungan, kemudahan, pengayoman dan bimbingan kepada
anggota keluarga dan lingkungan disekitarnya.
Ditingkat petugas, strategi ini ditujukan kepada para pimpinan atau pengambil
keputusan, seperti Kepala Puskesmas, pejabat di tingkat kabupaten/kota, yang
secara fungsional maupun struktural pembina program kesehatan di wilayahnya.
Tujuannya adalah agar para pimpinan atau pengambil keputusan mengupayakan
kebijakan, program atau peraturan yang berorientasi sehat, seperti adanya peraturan
tertulis, dukungan dana, komitmen, termasuk memberikan keteladanan.
Langkah-langkah Advokasi
?? Tentukan sasaran yang akan diadvokasi, baik sasaran primer, sekunder atau
tersier
?? Siapkan informasi data kesehatan yang menyangkut PHBS di 5 tatanan.
?? Tentukan kesepakatan dimana dan kapan dilakukan advokasi.
?? Lakukan advokasi dengan cara yang menarik dengan menggunakan teknik dan
metoda yang tepat.
?? Simpulkan dan sepakati hasil advokasi.
?? Buat ringkasan eksekutif dan sebarluaskan kepada sasaran.
2. Mengembangkan Dukungan Suaana
Di tingkat keluarga/RT, strategi ini ditujukan kepada para kepala
keluarga/suami/bapaL ibu. kakek. nenek. dan lain-lain.Tujuannva adalah agar
kelompok ini dapat mengembangkan atau menciptakan suasana yang mendukung
dilaksahakannva PHBS di lingkungan keluarga. Caranya antara lain melalui anjuran
untuk selalu datang ke Posyandu mengingatkan anggota keluarga untuk tidak
merokok di dekat ibu hamil dan balita.
Di tingkat petugas, strategi ini ditujukan kepada kelompok sasar sekunder, seperti
petugas kesehatan, kader, lintas sektor, lintas progra Lembaga Swadaya
Masyarakat, yang peduli kesehatan, para pembuat op dan media masa. Tujuannya
adalah agar kelompok ini dapat mengembangkan atau menciptakan suasana yang
mendukung dilaksanakannya PHBS.
Caranya antara lain melalui penyuluhan kelompok, lokakarya, semin studi banding,
pelatihan, dsb.
Langkah-langkah Pengembangan Dukungan Suasana :
?? Menganalisis dan mendesain metode dan teknik kegiatan dukungan suasana,
seperti : demonstrasi, pelatihan, sosialisasi, orientasi.
?? Mengupayakan dukungan pimpinan, program, sektor terkait pada tiap tatanan
dalam bentuk adanya komitmen, dan dukungan sumber daya.
?? Mengembangkan metoda dan teknik dan media yang telah diuji coba dan
disempurnakan.
?? Membuat format penilaian dan menilai hasil kegiatan.
3. Gerakan Masyarakat.
Di tingkat keluarga/Rt, strategi ini ditujukan kepada anggota keluar seperti bapak, ibu
yang mempunyai tanggung jawab sosial untuk lingkungannya dengan cara menjadi
kader posyandu, aktif di LSM peduli kesehatan dll. Tujuannya agar kelompok sasaran
meningkat pengetahuannya kesadaran maupun kemampuannya, sehingga dapat
berperilaku sehat Caranya dengan penyuluhan perorangan. kelompok, membuat
gerak Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Ditingkat petugas strateai ini ditujuk kepada
sasaran primer. meliputi pimpinan puskesmas. kepala din kesehatan, pemuka
masyarakat. Tujuannya meningkatkan motivasipetuq untuk membantu masyarakat
untuk menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan Caranva antara lain melalui
penyuluhan kelompok, lokakarya, seminar, studi banding, pelatihan, dll.
Langkah-langkah kegiatan gerakan masyarakat
1. Peningkatan pengetahuan masyarakat melalui berbagai kegiat pembinaan.
2. Menganalisis dan mendisain metode dan teknik kegiatan pemberdaya seperti
pelatihan, pengembangan media komunikasi untuk penyuluh individu, kelompok
dan massa, lomba, sarasehan dan lokakarya.
3. Mengupayakan dukungan pimpinan, program, sektor terkait pada ti tatanan
dalam bentuk komitmen dan sumber daya.
4. Mengembanakan metoda dan teknik dan media yang telah diujicoba d
disempurnakan.
5. Membuat format pen] laian dan menilai hasil kegiatan bersama-sama deng; lintas
program dan lintas sektor pada tatanan terkait.
6. Menyusun laporan serta menyajikannya dalam bentuk tertulis (ringkasan,
eksekutif).
Berdasarkan uraian tersebut, maka yang perlu dilakukan dalam penggerak;
pelaksanaan adalah menerapkan AIC, yaitu :
A (Apreciation) : penghargaan kepada para pelaksana kegiatan.
I (Involvement) : keterlibatan para pelaksana dalam tugasnya.
C (Commitment) : kesepakatan para pelaksana untuk melaksanakan, tugasnya.
Hasil yang dicapai dalam tahap penggerakan pelaksanaan adalah adanya kegiatan
yang dilaksanakan sesuai rencana, khususnya dalam :
?? Penyuluhan perorangan, kelompok dan masyarakat
?? Kegiatan pengembangan kemitraan dengan program dan sektot terkait serta
dunia usaha.
?? Kegiatan pendekatan kepada pimpinan/pengambil keputusan Kegiatan
pembinaan, bimbingan dan supervisi.
?? Mengembangkan daerah kajian atau daerah binaan.
?? Melaksanakan pelatihan, baik untuk petugas kesehatan, lintas sektor. organisasi
kemasyarakatan dan kelompok profesi.
?? Mengembangkan pesan dan media spesifik.
?? Melaksanakan uji coba media dll.
E. Tahap Pemantauan dan Penilaian
1. Pemantauan.
Untuk mengetahui program PHBS telah berjalan dan memberikan hasil atau dampak
seperti yang diharapkan, maka perlu dilakukan pemantauan.
Waktu pemantauan dapat dilakukan secara berkala atau pada pertemuan bulanan,
topik bahasannya adalah kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan dikaitkan
dengan jadwal kegiatan yang telah disepakati bersama. Selanjutnya kendala-kendala
yang muncul perlu dibahas dan dicari solusinya.
Cara pemantauan dapat dilaksanakan dengan melakukan kunjungan lapangan ke
tiap tatanan atau dengan melihat buku kegiatan/laporan kegiatan intervensi
penyuluhan PHBS.
2. Penilaian
Penilaian dilakukan dengan menggunakan instrumen yang sudah dirancang sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai. Penilaian dilaksanakan oleh pengelola PHBS lintas
program dan lintas sektor. Penilaian PHBS meliputi masukan, proses dan luaran
kegiatan. Misalnya jumlah tenaga terlatih PHBS media yang telah dikembangkan,
frekuensi dan cakupan penyuluhan.
Waktu penilaian dapat dilakukan pada setiap tahun atau setiap dua tahun Caranya
dengan membandingkan data dasar PHBS dibandingkan dengan data PHBS hasil
evaluasi selanjutnya menilai kecenderungan masing-masing indikator apakah
mengalami peningkatan atau penurunan, mengkaji penyebab masalah dan
melakukan pemecahannya, kemudian merencanakan intervensi berdasarkan data
hasil evaluasi PHBS.
Contoh di Kabupaten Pariaman data perilaku tidak merokok tahun 2001 menunjukan
44,2% sedangkan tahun 2002 ada peningkatan sebesar 73,6 %
Cara melakukan penilaian melalui :
?? Pengkajian ulang tentang PHBS
?? Menganalisis data PHBS oleh kader/koordinator PHBS
?? Melakukan analisis laporan rutin di Dinas Kesehatan kabupaten/kota (SP2TP)
?? Observasi. wawancara mendalam. diskusi kelompok terarah kepada petugas,
kader dan keluarga.
Hasil yang dicapai pada tahap pemantauan dan penilaian adalah :
1. Pelaksanaan program PHBS sesuai rencana
2. Adanya pembinaan untuk mencegah terjadinya penyimpangan
3. Adanya upaya jalan keluar apabila terjadi kemacetan/hambatan
4. Adanya peningkatan program PHBS
BAB III
INDIKATOR PERILAKU HIDUP BERSIH dan SEHAT
(PHBS)
A. Pengertian Indikator
Indikator diperlukan untuk menilai apakah aktifitas pokok yang dijalankan telah sesuai
dengan rencana dan menghasilkan dampak yang diharapkan. Dengan demikian
indikator merupakan suatu alat ukur untuk menunjukkan suatu keadaan atau
kecenderungan keadaan dari suatu hal yang menjadi pokok perhatian.
B. Persyaratan Indikator
Indikator harus memenuhi persyaratan antara lain :
1. Sahih (solid). dapat mengukur sesuatu yang sebenarnya dapat diukur oleh
indikator tersebut.
2. Obyektif, harus memberikan hasil yang sama, walaupun dipakai oleh orang yang
berbeda dan pada waktu yang berbeda.
3. Sensitif, dapat mengukur perubahan sekecil apapun.
4. Spesifik, dapat mengukur perubahan situasi dimaksud.
C. Sifat indikator
1. Tunggal (indikator tunggal) yang isinya terdiri dari satu indikator. Misal : Angka
Kematian Bayi (AKB).
2. Jamak (indikator komposit). yang merupakan gabungan dari beberapa indikator.
Misal : Indek Mutu Hidup (IMH) yang merupakan gabungan dari 3 indikator. yaitu
melek huruf. Angka Kematian Bayi (AKB) dan angka harapan hidup anak usia 1
tahun.
D. Jenis-jenis indikator
Jenis indikator ada 3, yaitu indikator input, indikator proses dan indikator
output/outcome. Apabila diuraikan sebagai berikut :
Indikator Input
Yaitu indikator yang berkaitan dengan penunjang pelaksanaan program dan turut
menentukan keberhasilan program.
Seperti : tersedia air bersih, tersedia jamban yang bersih, tersedia tempat sampah,dll.
Indikator Proses
Yaitu indikator yang menggambarkan bagaimana proses kegiatan/program berjalan
atau tidak.
Seperti: terpelihara tempat penampungan air, tersedia alat pembersih jamban,
digunakan dan dipeliharanya tempat sampah dan lain-lain.
Indikator output/outcome
Yaitu indikator yang menggambarkan bagaimana hasil output suatu program
kegiatan telah berjalan atau tidak.
Seperti : Digunakannya air bersih, digunakannya jamban, di halaman dan di dalam
ruangan dalam keadaan bersih dll.
Ukuran-ukuran yang sering digunakan sebagai indikator adalah angka absolut,
rasio, proporsi, angka/tingkat. Yang perlu diingat suatu indikator tidak selalu
menjelaskan keadaan secara keseluruhan, tetapi kadang-kadang hanya memberi
petunjuk (indikasi) tentang keadaan keseluruhan tersebut sebagai suatu pendugaan
(proxy).
E. Indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Mengacu pada pengertian perilaku sehat, indikator ditetapkan berdasarkan area /
w-ilayah
1. Indikator Nasional
Ditetapkan 3 indikator, yaitu:
a. Persentase penduduk tidak merokok.
b. Persentase penduduk yang memakan sayur-sayuran dan buah-buahan.
c. Persentase penduduk melakukan aktifitas fisik/olah raga.
Alasan dipilihnya ke tiga indikator tersebut berdasarkan issue global dan regional
(Mega Country Health Promotion Network. Healthy Asean Life Styles), seperti
merokok telah menj adi issue global, karena selain mengakibatkan penyakit seperti
jantung, kankerparu-paru juga disinyalir menjadi entry point untuk narkoba.
Pola makan yang buruk akan berakibat buruk pada semua golongan umur, bila
terjadi pada usia balita akan menj adikan generasi yang lemah/generasi yang hilang
dikemudian hari. Demikian juga bila terjadi pada ibu hamil akan melahirkan bayi yang
kurang sehat, bagi usia produktif akan mengakibatkan produktifitas menurun.Kurang
aktifitas fisik dan olah raga mengakibatkan metabolisme tubuh terganggu, apabila
berlangsung lama akan menyebabkan berbagal penyakit, seperti jantung, paru-paru,
dan lain-lain.
2. Indikator Lokal Spesifik
Yaitu indikator nasional ditambah indikator lokal spesifik masingmasing daerah
sesuai dengan situasi dan kondisi daerah.
Ada 16 indikator yang dapat digunakan uttuk rnengukur perilaku sehat sebagai
berikut :
1. lbu hamil memeriksakan kehamilannya.
2. Ibu melahirkan ditolong oleh tenaga kesehatan.
3. Pasangan usia subur (PUS ) memakai alat KB.
4. Balita ditimbang.
5. Penduduk sarapan pagi sebelum melakukan aktifitas.
6. Bayi di imunisasi lengkap.
7. Penduduk minum air bersih yang masak.
8. Penduduk mengaiuiakan jamban sehat.
9. Penduduk mencuci tangan pakai sabun.
10. Penduduk menggosok gigi sebelum tidur.
11. Penduduk tidak menggunakan napza.
12. Penduduk mempunyai Askes/ tabungan/ uang/ emas.
13 . Penduduk wamta memeriksakan kesehatan secara berkala den, SADARI
(Pemeriksaan Payudara Sendiri).
14. Penduduk memeriksakan kesehatan secara berkala un mengukur hipertensi.
15. Penduduk wanita memeriksakan kesehatan secara berkala dengan Pap Smear.
16. Perilaku seksual dan indikator lain yang diperlukan sesuai prioritas masalah
kesehatan yang ada didaerah.
3. Indikator PHBS di tiap tatanan
Indikator tatanan sehat terdiri dari indikator perilaku dan indik, lingkungan di lima
tatanan, yaitu tatanan rumah tangga, tatanan terr kerja, tatanan tempat umum,
tatanan Sekolah, tatanan sarana kesehatan.
1. Indikator tatanan rumah tangga :
a. Perilaku :
1. Tidak merokok
2. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
3. Imunisasi
4. Penimbangan balita
5. Gizi Keluarga/sarapan
6. Kepesertaan Askes/JPKM
7. Mencuci tangan pakai sabun
8. Menggosok gigi sebelum tidur
9. Olah Raga teratur
b. Lingkungan :
1. Ada jamban
2. Ada air bersih
3 . Ada tempat sampah
4. Ada SPAL
5. Ventilasi
6. Kepadatan
7. Lantai
2. Indikator tatanan tempat kerja :
a. Perilaku
1. Menggunakan alat pelindung
2. Tidak merokok/ada kebijakan dilarang merokok
3 . Olah Raga teratur
4. Bebas Napza
5. Kebersihan
6. Ada Asuransi Kesehatan
b. Lingkungan
1. Ada jamban
2. Ada air bersih
3. Ada tempat sampah
4. Ada SPAL
5. Ventilasi
6. Pencahavaan
7. Ada K3 (Kesehatan Keselamatan Kerja)
8. Ada kantin
9. Terbebas dari bahan berbahaya
10. Ada klinik
3. Indikator tatanan tempat umum
a. Perilaku
1. Kebersihan jamban
2 . Kebersihan lingkungan
b. Lingkungan
1. Ada jamban
2. Ada air bersih
3 . Ada tempat sampah
4. Ada SPAL
5. Ada K3 (Kesehatan Keselamatan Kerja)
4. Indikator Tatanan Sekolah :
a. Perilaku
1. Kebersihan pribadi
2. Tidak merokok
3. Olah raga teratur
4. TidakmenggunakanNAPZA
b. Lingkungan
I. Ada jamban
2. Ada air bersih
3. Ada tempat sampah
4. Ada SPAL
5. Ventilasi
6. Kepadatan
7. Ada warung sehat
8. Ada UKS
9. Ada taman sekolah
5. Indikator tatanan sarana kesehatan
a. Perilaku
I. Tidak merokok
2. Kebersihan lingkungan
3. Kebersihan kamar mandi
b. Lingkungan
1. Ada j amban
2. Ada air bersih
3. Ada tempat sampah
4. Ada SPAL
5. Ada IPAL (RS)
6. Ventilasi
7. Tempat cuci tangan
8. Ada pencegahan serangga
F. Cara memperoleh data PHBS
Ada beberapa indikator perilaku sehat yang dapat diperoleh dengan cara
1. Menggunakan sumber data yang sudah tersedia seperti
?? SUSENAS (Survai Sosial Ekonomi Nasional)
?? SDKI (Survai Demografi dan Kesehatan Indonesia)
?? SAKERTI (Survai Kehidupan Rumah Tangga Indonesia)
?? SURKESNAS (Survai Kesehatan Nasional)
?? SEM (Studi Evaluasi Manfaat), dll.
Sampel data tersebut di ambil sampai dengan tingkat Kabupaten/Kota saja. Oleh
karena itu, daerah dapat mengembangkan survai cepat PHBS dari tingkat
kabupaten/kota sampai tingkat desa dengan metode sampel WHO yaitu 210
KK/kabupaten/kota, sehingga tingkat akurasi dan penajaman permasalahan dapat
diperoleh.
2. Mengembangkan survai khusus, apabila ingin memperoleh data yang khusus
seperti survai PBHS balk kuantitatif maupun kualitatif sesuai perilaku lainnya.
3. Menggunakan laporan yang sudah ada.
BAB IV
PENUTUP
1. Panduan Manajemen PHBS menuju Kabupaten/Kota sehat disusun berdasarkan
antara lain adanya perkembangan indikator dan cara pengambilan sampel. Oleh
karena itu dalam pelaksanaan di lapangan, panduan ini dapat disesuaikan dan
dikembangkan berdasarkan permasalahan dan keadaan daerah.
2. Selanjutnya para pengguna panduan ini diharapkan mempunyai pemahaman
yang mendalam, motivasi yang kuat, dan kreativitas yang tinggi untuk
mempraktekkan program PHBS di lapangan.
3. Dengan demikian program PHBS dapat berjalan secara efektif dan efisien serta
diperlukan adanya dukungan positif dari semua pihak.
4. Selain itu, kebijakan Pusat Promosi Kesehatan saat ini baru melaksanakan
program PHBS di tatanan rumah tangga yang secara bertahap akan
dikembangkan pada tatanan lain. Daerah dapat mengembangkan sendiri untuk
melaksanakan program PHBS pada tatanan lain sesuai dengan kemampuan
yang dimiliki.
5. Selamat bekerja, semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang
senantiasa memberikan kekuatan, petunjuk dan perlindunganNya kepada kita
semua dalam menjalankan tugas untuk membangun masyarakat Indonesia yang
sehat rohani dan jasmani. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar